Stok Minyak Sawit Menumpuk, Harga TBS di Tingkat Petani Masih Terpuruk

Stok Minyak Sawit Menumpuk, Harga TBS di Tingkat Petani Masih Terpuruk

Nikaniku.com – Stok Minyak Sawit Menumpuk, Harga TBS di Tingkat Petani Masih Terpuruk. Pungutan ekspor penarikan kebijakan pemerintah belum mengakhiri penderitaan petani. Penyerapan tandan buah segar atau FFB kelapa sawit rendah yang berdampak pada penurunan harga FFB yang merupakan pukulan berat bagi petani kelapa sawit.

Stok Minyak Sawit Menumpuk, Harga TBS di Tingkat Petani Masih Terpuruk

Ketua Asosiasi Petani Plasma Minyak Indonesia (Appksi) Marr’ie Andi Muhammadyah (Mdy Sappo) mengatakan, pada hari ini, penyerapan Sawitt FFB tidak optimal atau pulih seperti sebelum larangan ekspor CPO.

Ini adalah dampak dari stok minyak kelapa sawit (CPO) yang masih menumpuk di tangki tempat penampungan pabrik kelapa sawit (PKS) karena larangan ekspor pada CPO beberapa waktu yang lalu.

“Menurut info PKS, tidak optimal untuk mengeluarkan CPO karena kesulitan fasilitas transportasi, yaitu kapal untuk mengangkut CPO, karena ketika Larangan Ekspor, banyak kapal transportasi pindah ke generasi lain dan melakukan kontrak panjang,” katanya.

Selain itu, Mdy Sappo juga mengeluh tentang harga petani FFB yang masih jauh dari harapan karena masih ada beberapa PK yang ingin mengakomodasi FFB petani karena tangki di pabrik -pabrik ini yang masih penuh.

Minta Cabut Bea Keluar CPO

Dia menjelaskan, ketika meskipun harga CPO rendah atau turun menjadi 40 persen dari harga sebelum larangan ekspor valid dan retribusi ekspor atau retribusi adalah nol persen, tetapi tidak dapat mengangkat harga FFB di tingkat pertanian. Ini adalah salah satunya karena bea ekspor yang masih tinggi yang diadopsi oleh pemerintah untuk ekspor CPO.

“Karena bea ekspor masih sangat tinggi, IUSD 288 per ton dan ini dibebankan ke harga petani FFB di mana sebelum harga CPO tertinggi sekitar USD 2.000 per mt. Sekarang jatuh dalam kisaran MT berarti harganya adalah Hanya USD 897 per mt. USD 288 yang dikenakan pada harga petani FFB, “jelasnya.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan ekspor CPO lebih cepat, petani meminta pemerintah juga mencabut bea ekspor CPO. Dengan demikian diharapkan membuat tangki dalam PKS segera kosong dan dapat membuat penyerapan minyak kelapa sawit meningkat. Pada akhirnya, itu akan membuat harga minyak kelapa sawit petani melonjak ke tingkat normal.

“Cabut bea ekspor CPO sehingga dapat meningkatkan harga petani FFB untuk meningkat tidak seperti hari ini,” pungkasnya.

Kata Pemerintah

Sebelumnya, ketua Asosiasi Petani Minyak Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, menyoroti harga tandan buah segar atau kelapa sawit yang masih merosot. Meskipun di sisi lain, ekspor alias minyak sawit mentah CPO di luar negeri mulai berjalan dengan lancar.

Gulat gulat, ada semacam skenario yang diatur oleh pemrosesan minyak kelapa sawit, mengatakan ekspor CPO tidak berjalan lancar, terutama kepada petani yang tidak memiliki jaringan ekspor. Secara otomatis harga kelapa sawit dapat dikurangi.

“Apakah Anda ingin menjual Rp. 8.000 per kg? Rp 1.100,” kata gulat dalam sesi diskusi virtual, Senin (7/25).

“Semua ini memiliki dampak sistemik. Inilah yang dibangun. Jadi saya sangat, sangat menyesal, ketika informasi ini digoreng, ekspor tidak berjalan dengan lancar. Tetapi data menunjukkan bahwa ekspor berjalan dengan lancar, jadi saya menyebutnya game tersebut ,” dia berkata.

Berbicara dari pihak pemerintah, staf khusus Menteri Perdagangan Oke Nurwan dianalisis, ada sejumlah indikator yang membuat harga minyak kelapa sawit masih jatuh.

“Sinyal pertama, harga FFB ini tertekan karena dikatakan ada tumpukan CPO. Ekspor berjalan meskipun masih lebih rendah dari sebelumnya,” kata Oke.

Kemudian, ada juga kebijakan yang terkait dengan pungutan yang dikenakan pada petani oleh aktor ekspor. “Harga FFB seharusnya ada (kenaikan), menurut tingkat internasional. Namun, ada beban yang dimasukkan ke dalam eksportir kepada petani,” katanya.

Jadi, oke terus berlanjut, saat ini pemerintah berusaha untuk tetap melonggarkan beban yang dikenakan pada petani. Salah satunya, dengan meningkatkan tingkat pengali ekspor, serta dengan sementara menghapus pungutan ekspor.

“Bahkan jika pungutan ekspor dilarang sampai 31 Agustus, itu tidak akan mengganggu keuangan BPDPKS (Badan Manajemen Dana Perkebunan Palm). Semua itu tentu saja untuk mempercepat ekspor dan mengurangi tekanan yang dimasukkan ke dalam petani di Harga FFB, “katanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *